Simbolisme kegiatan dalam upacara ritual yang bersifat khas.

Simbolisme sangat menonjol perananya dalam  tradisi atau adat-istiadat. Segala bentuk dan macam kegiatan simbolik dalam masyarakat tradisional merupakan upaya pendekatan manusia terhadap Tuhannya, yang menciptakan, menurunkannya di dunia, memelihara hidup dan menentukan kematian manusia. Dengan demikian tindakan simbolis dalam upacara religius merupakan bagian yang sangat penting dan tidak mungkin dibuang begitu saja, karena ternyata bahwa manusia harus bertindak dan berbuat sesuatu yang melambangkan komunikasi dengan Tuhan.Sementara itu Herusatoto (2014:1-2) mengemukakan, dasar pemikiran dan sejarah kebudayaan yang khas dalam kultur Jawa adalah digunakannya simbol-simbol atau lambang-lambang sebagai sarana atau media untuk menitipkan pesan-pesan atau nasehat-nasehat bagi bangsanya. Sejarah Jawa menunjukkan penggunaan simbol-simbol itu dalam tindakan, bahasa, dan religi orang Jawa yang telah digunakanya sejak zaman prasejarah. Dengan demikian manusia adalah mahkluk budaya, dan budaya manusia penuh dengan simbol-simbol, sehingga dapat dikatakan bahwa budaya mansuia penuh diwarnai dengan simbolisme, yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola yang mendasarkan kepada simbol-simbol.Mulyana (2001:77) mengemukakan, simbol adalah suatu rangsangan yang mengandung makna dan nilai yang dipelajari bagi manusia, dan respons manusia terhadap simbol adalah dalam pengertian makna dan nilainnya ketimbang dalam pengertian fisik dan alat inderanya. Sementara itu, Edraswara (2003:172) mengatakan, simbol merupakan bagian terkecil dari ritual yang menyimpan suatu makna dari tingkah laku atau kegiatan dalam upacara ritual yang bersifat khas. Dengan demikian, bagian-bagian terkecil ritual pun perlu mendapat perhatian, seperti sesaji-sesaji, mantra, dan ubarampe lain. Simbol-simbol  perlu ditafsirkan sejalan pula dengan keadaan masa kini, untuk memperoleh makna yang lebih komprehensif. Namun perlu dipahami bahwa pengertian yang terkadung dalam simbolis  itu terbentuk berdasarkan kesepakatan  sekelompok masyarakat. Hal ini menyebabkan  adanya perbedaan-perbedaan  pengertian dan pemakaian  sesuatu simbol dalam religi maupun tradisi pada beberapa kelompok  masyarakat. Misalnya, membakar kemenyan dan sesaji bunga, pada suatu kelompok masyarakat hal tersebut sebagai simbol persembahan kepada para dewa atau roh nenek moyang dan sebagai pengiring doa-doa agar dewa-dewa dan arwa nenek moyang menerima  dengan bahagia doa mereka sambil menikmati bau harumnya bunga dan bau asap kemenyan yang khas. Hal semacam itu pada kelompok masyarakat yang lain dianggap sebagai  mengandung dan meminta bantuan setan-setan agar setan-setan tidak mengganggu mereka.Fenomena kehidupan orang jawa menunjukkan simbolisme tampak dalam tata kehidupan kesehariannya baik dalam penggunaan bahasa, sastra, seni, dan langkah tindakan-tindakannya, baik dalam pergaulan sosial maupun dalam upacara-upacara spiritual dan religinya yang selalu menggunakan simbol-simbol untuk mengungkapkan rasa etis, estetis, spiritual dan religi untuk  menuangkan citra budayanya. Endraswara (2014:223) menegaskan, dalam konteks kehidupan masyarakat jawa, dikenal pepatah,  wong Jawa nggone semu, papaning rasa, tansah sinamuning samudana. Maksudnya, dalam segala aktivitas, manusia jawa sering menggunakan simbol-simbol tertentu, segala tindakannya menggunakan rasa, dan perbuatannya selalu dibuat samar. Hampir semua laku budaya yang ada dalam ritual merupakan serentetan simbol-simbol budaya spiritual. Herusatoto (2008:156) mengemukakan, bentuk-bentuk simbolis dalam budaya jawa tercermin dalam tiga macam. Pertama, tindakan simbolis dalam religinya tidak terlepas dari pengaruh  zaman mitos atau jaman kebudayaan asli jawa, pengaruh jaman kebudayaan Hindu-Jawa, dan pengaruh jaman kebudayaan Hindu-Jawa dan jaman Jawa-Islam. Pengaruh zaman mitos atau jaman kebudayaan asli jawa  seperti kegiatan upacara menghormati dan mendoakan  arwa nenek moyang, pemberian sesaji atau sesajen  bagi sing mbahurekso.Pengaruh jaman kebudayaan Hindu-Jawa seperti penghormatan dan pemujaan  kepada Dewa-Dewi lainnya yang asli Jawa. Hal ini adalah asimilasi  paham animisme dan paham hindu. Hasil asimilasi ini melahirkan Dewi Sri, sebagai tokoh simbolik kaum petani jawa, yang melindungi tanaman padinya terhadap gangguan hama tanaman padi. Pengaruh jaman kebudayaan Hindu-Jawa dan jaman Jawa-Islam seperti upacara sekaten.Kedua, tindakan simbolis dalam tradisi atau adat istiadat atau disebut juga adat tata kelakuan dibagi dalam empat tingkatan, yaitu: (1)  tingkat nilai budaya, (2) tingkat norma- norma, (3)  tingkat hukum, dan (4)  tingkat aturan khusus.(Koentjaraningrat,1974: 20). Tingkat adat yang pertama adalah nilai budaya, berupa ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat, dan biasanya berakar dalam bagian emosional dan alam jiwa manusia. Dalam gerak langkah pelaksanaannya atau tindakannya orang jawa memiliki ungkapan simbolis seperti  saiyeg saeko projo,mangan ora mangan kumpul, jer basuki mawa bea, tetulung kok dikertoaji, ungkapan tepa salira.Tingkat adat yang kedua  adalah sistem norma, dimana sistem norma yang berlaku  berupa nilai-nilai budaya yang sudah terkait kepada peranannya masing-masing anggota masyarakat, terlihat secara umum dalam sikap dan tindakan  antara yang lebih tua atau yang lebih atau yang lebih awam.Tingkat adat ketiga terlihat dalam adat tingkat hukum atau sistem hukum yang berlaku di masyarakat jawa. Hal tersebut sangat kentara dalam hukum adat perkawinannya dan hukum adat kekayaan. Tingkat  adat yang keempat, adalah aturan-aturan khusus yang mengatur kegiatan-kegiatan yang terbatas ruang lingkupnya  dalam masyarakat dan bersifat konkret, misalnya aturan sopan santun. Ketiga, tindakan simbolis dalam kesenian,  terdiri dari beberapa unsur alam seni yaitu seni rupa, seni sastra, seni suara, seni tari, seni musik dan seni drama. Alam seni merupakan salah satu dari aktivitas berpola dari manusia yang dalam  pengungkapannya penuh dengan tindakan-tindakan simbolis. Hal itu disebabkan karena melalui alam seni rasa budaya manusia yang tidak dapat diungkapkan dalam pergaulan sehari-hari antar manusia, dicurahkannya dalam bentuk-bentuk simbol di dalam alam seninya. Sudharto (2004:79) mengemukakan, seni yang merupakan hasil budaya manusia tidaklah sekedar mempunyai nilai keindahan, tetapi juga mengandung makna simbolis. Corak seni yang mempunyai makna simbolis dapat disaksikan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang mempunyai pelbagai macam seni daerah, misalnya kesenian tayub, kesenian wayang purwo dll. Simbol-simbol ritual menurut Endraswara (2014:2470 berupa sesaji, tumbal, dan uborampe. Sesaji merupakan wacana simbol yang digunakan sebagai sarana untuk negosiasi spiritul kepada hal-hal gaib. Hal ini dilakukan agar makhluk-makhluk halus di atas kekuatan manusia tidak mengganggu. Dengan pemberian makan secara simbolis kepada roh halus, diharapkan roh tersebut mau membantu manusia. Kuntowijoyo (2006:73) menjelaskan, sesaji dilakukan dengan penuh kecermatan dalam pemilihan bahan-bahan sesaji dan kecermatan dalam menyusun kelengkapannya. Sesaji yang digunakan dalam ritual, disamping kemenyan juga menggunakan tumpeng serta Ubarampen-nya. Sesaji tersebut dimaksudkan sebagai sarana wilujengan (selamatan). 

x

Hi!
I'm Morris!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out